Kamis, 11 Oktober 2012
Riwayat Hidup
Nama saya Mahfudhah Afiah Maladi biasa di panggil Fudah. Tempat Tanggal
Lahir, Ujung Pandang, 12 April 1994. Umur saya 18 Tahun. Anak kedua dari
2 bersaudara. Alamat saya jalan Racing Centre Komp. Umi Blok i no. 24
Makassar. Hobi saya membaca buku nonfiksi komedi, menonton Stand Up
Comedy Indonesia dan online Facebook, Twitter dan menulis di Blog.
Pendidikan saya sewaktu kecil yaitu, saya TK di TK Jamal Haq, di kelas
nol besar. Kemudian saya lanjut sekolah SD di SDN. Sudirman 1 Makassar,
di kelas 1-6 B. Ketika kelas 6 SD, saya berkeinginan memakai Jilbab,
karena waktu itu saya melihat teman saya yang memakai Jilbab terlihat
Cantik dan Anggun.
Lalu, saya melanjutkan masuk SMP di MTsN Model Makassar, di kelas
7.9-9.4. Alhamdulillah, keinginan untuk berjilbab terwujud. Sesudah SMP
saya melanjutkan sekolah SMA yang kebetulan bersebelahan dengan SMP saya
yaitu di MAN 2 Model Makassar, di kelas 10-3 dan 10-5 (ketika itu ada
pe-rollingan kelas), naik kelas 11 di kelas 11 IPS 3 sampai kelas 12 IPS
3.
Karena sudah terbiasa memakai Jilbab di sekolah, maka sehari-hari jika
saya hendak keluar rumah entah bepergian bersama keluarga atau sama
teman saya pasti memakai baju berlengan panjang dan memakai Jilbab. Di
keluarga saya, sepertinya baru saya yang lulusan Madrasah Tsanawiyah dan
Madrasah Aliyah, yang lainnya lulusan SMP dan SMA Negeri.
Ternyata waktu Tante dan Om saya tahu bahwa sekolah saya bagus, mereka
mendaftarkan anaknya ke SMP saya yaitu di MTsN Model, tapi sudah dari
SMP adik-adik sepupu saya tidak mau lagi melanjutkan sekolah di SMA saya
yaitu di MAN 2 Model. Capek menghafal alasannya kebanyakan hafalan
disana. Alhamdulillah saya lulus disana.
Banyak orang yang beranggapan bahwa sekolah di Madrasah itu tidak enak,
banyak hafalan, belajarnya lama, dan sebagainya. Memang benar, sekolah
di Madrasah itu banyak hafalannya, maklum saja namanya juga sekolah
Islam. Tapi, orang seperti saya yang sudah merasakan sekolah di Madrasah
pasti sudah terbiasa dengan semua itu. Karena saya belajar disana.
Sebenarnya Madrasah sama saja dengan sekolah lain. Pelajaran dan tata
tertibnya sama, cuma yang membedakan kalau Madrasah ada nilai
tambahannya yaitu belajar tentang Agama Islam yang mencakup mulai dari
Fikih, Aqidah, sampai Bahasa Arab. Sedangkan sekolah negeri hanya
pelajaran umum saja.
Kemudian ketika SMA/MAN saya mengambil jurusan IPS. Sebenarnya saya
suka pelajaran IPS itu dari SMP/MTs. Mungkin kebanyakan orang memilih
jurusan IPA katanya lebih bagus. Menurut saya, jurusan IPA itu susah
karena memang otak saya yang tidak mampu di pelajaran itu. Makanya, saya
memilih jurusan IPS. Sebenarnya IPS juga susah, setidaknya saya suka
dengan pelajarannya karena mudah di mengerti.
Memilih jurusan, orangtua biasanya memberikan nasihat dalam pilihan
yang kita ambil. Saya juga seperti itu. Dulu ketika SD dan SMP ibu saya
menyuruh saya jadi dokter. Ketika masuk SMA berubah pilihan lagi masuk
di hukum, karena saya pilih jurusan IPS waktu itu. Orangtua saya tahu
bahwa kemampuan saya itu tidak seperti kakak saya yang jauh lebih tinggi
kemampuannya dibandingkan dengan saya. Karena, kakak saya otaknya ke
IPA, sekarang kakak saya Mahasiswa Teknik Arsitek di UMI.
Kebetulan Ibu saya pendidikannya juga lulusan IPA sama seperti kakak
saya. Sekarang Ibu saya Dosen di Teknik Sipil UMI. Sepertinya kemampuan
Ibuku turun ke Kakakku, banyak yang berpendapat demikian. Dan memang
Ibu dan Kakakku ini pintar Matematika dan juga wajahnya mirip. Beda
dengan saya.
Yang tadi itu saya cerita tentang Ibu dan Kakak saya. Sekarang tentang
Ayah saya. Di keluarga saya, saya biasanya dibilang mirip sama Ayah
saya. Dari segi wajah dan tingkah laku saya itu mirip dengan Ayah saya.
Bahkan keluarga saya bilang saya itu turunan dari Ayah. Pendidikan Ayah
yang terakhir itu di Fakultas Hukum UMI. Tapi, Ayah saya adalah dulunya
seorang penyiar radio di RRI, seorang MC juga, dan sekarang PNS.
Setelah Lulus SMA/MAN, saya melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dan
Perguruan Tinggi yang pertama saya daftar adalah di Universitas
Hasanuddin (UNHAS). Karena kalah saing, saya dinyatakan tidak lulus. Dan
ada banyak teman-teman saya yang tidak lulus disana. Sebenarnya, saya
tidak terlalu memikiran ketidaklulusan saya disana. Karena saya tahu
kemampuan saya itu memang tidak cocok disana.
Lalu, pilihan kedua saya adalah di Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Saya memilih di Fakultas Sastra jurusan Sastra Inggris. Alhamdulillah,
saya Lulus. Namun, ketika pendaftaran ulang, ada seorang pegawai tata
usaha (kebetulan temannya Ibu saya) menawarkan di jurusan Ilmu
Komunikasi. Katanya satu ikut Ibu satu ikut Ayah.
Waktu itu saya di kasi 2 pilihan jurusan, Sastra Inggris atau Ilmu
Komunikasi. Saya mikir, saya bingung. Katanya, kalau di Sastra Inggris
pelajarannya seperti di tempat Les yang ada di luar. Kalau Ilmu
Komunikasi, pelajarannya sudah mencakup semuanya seperti Ilmu Politik,
Sosiologi, Broadcasting, dan sebagainya dan ada belajar Bahasa
Inggrisnya juga. Dan kebetulan Mata Kuliah dari Ilmu Komunikasi semuanya
saya suka dan saya tertarik untuk mempelajarinya.
Sampai akhirnya, saya memilih untuk masuk di jurusan Ilmu Komunikasi
UMI. Mungkin saja memang benar bahwa kemampuan Ayah saya turun ke saya.
Sepertinya saya akan melanjutnya pekerjaan Ayah saya dulu. Menjadi
seorang penyiar radio, mungkin juga seorang MC.
Seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita saya yang dulunya di suruh
jadi dokter, trus di suruh masuk di hukum, sekarang sepertinya cita-cita
dan impian saya berubah. Bukan lagi menjadi seorang dokter atau seorang
pengacara, mungkin saya nanti akan jadi seperti Ayah saya. Menjadi
seorang Penyiar, Jurnalis atau seorang MC, atau mungkin juga menjadi
seorang Fotografer.
Saya tidak tahu akan seperti apa saya di masa yang akan datang. Biarlah
waktu berjalan dengan sendirinya, menjawab setiap impian kita. Semoga
impian terbaik kita semua terkabul dan kita semua menjadi sukses.
Demikianlah Riwayat Hidup Saya, lebih dan kurangnya mohon di maafkan.
Terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar